Pengurangan Emisi Karbon akan Pengaruhi Kebijakan Pasar Modal

 Kebijakan pengurangan emisi karbon dalam memerangi perubahan iklim yang diterapkan suatu negara akan mempengaruhi kebijakan dan regulasi investasi, termasuk pasar modal. Pelaku bursa saham atau pasar modal akan tergerak mengikuti kebijakan tersebut apabila kebijakan pengurangan emisi karbon tersebut dijalankan secara konsisten.

Demikian disampaikan Ketua Kaukus Ekonomi Hijau (KEH) DPR Satya Widya Yudha dalam keterangan tertulisnya saat menjadi pembicara dalam dialog bertajuk United Nations Sustainable Stock Exchanges (SSE) Leaders Luncheon on Climate, awal pekan ini. Dalam acara yang menjadi bagian dari Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (COP21) di Paris ini, Satya menjadi satu-satunya pembicara dari Indonesia. Pada acara tesebut, peserta dialog adalah para CEO pasar modal dan lembaga keuangan dunia. Mereka antara lain datang dari Nasdaq, Euronext, Londo Stock Exchange, Swiss Stock Exchange, Bloomberg, Moody’s, Mirova, Aviva, Hermes, dan Pirelli.

Saat itu, Satya menyatakan pentingnya peran negara dalam aksi mengurangi emisi karbon. Diharapkan, hasil Konferensi Perubahan Iklim tersebut mempunyai kekuatan hukum mengikat. “Masyarakat bursa saham atau pasar modal baru bisa bergerak kalau ada konsistensi tersebut. Agar konsistensi terjadi, perlu kerja sama yang erat antara pemerintah, masyarakat sipil, dan lembaga keuangan untuk mewujudkan pencapaian target pengurangan emisi ini. Jangan jadikan rencana aksi pengurangan emisi karbon ini sebagai slogan semata,” ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR itu.

Satya setuju dengan pendapat Jeffrey Sachs dari Columbia University bahwa target mempertahankan kenaikan suhu maksimum dua derajad celcius harus diikuti dengan aksi yang jelas dari setiap negara. Kesadaran akan pentingnya perhatian terhadap perubahan iklim memang kian meningkatd an mempengaruhi kebijakan di banyak negara. “Kebijakan atas perubahan iklim ini juga mempengaruhi kebjakan dan regulasi investasi, dan tentu saja berpengaruh terhadap pasar modal, investor, dan korporasi,” ungkap Satya.

Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim di Paris ini diyakini bakal menelurkan kebijakan perubahan iklim yang akan mempengaruhi pasar dalam beberapa tahun mendatang. Karena itulah, untuk mengetahui bagaimana para pemimpin pasar modal membantu men-deliver keputusan penting Paris ini ke pasar dan bagaimana bentuk pasar modal di masa mendatang, maka PBB menggelar dialog Sustainable Stock Exchanges (SSE) Leaders tersebut.

Kaukus Hijau DPR terbentuk sejak 2012. Kaukus ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk memperkuat peran DPR dalam menjalankan pembangunan rendah karbon (low carbon growth). Menurut dia, Indonesia masih punya ketergantungan konsumsi yang cukup tinggi terhadap bahan bakar fosil, sehingga menjadi salah satu negara penghasil emisi yang besar di dunia. “Kami berupaya turut mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berdaya dukung lingkungan melalui kerja-kerja di parlemen,” ujar Satya.

Diposting 10-12-2015.

Dia dalam berita ini...

S.W.Yudha

Anggota DPR-RI 2014
Jawa Timur IX