Hindari Pengurasan Sapi Lokal

sumber berita , 07-03-2013

Pemerintah perlu mengevaluasi program swasemba daging agar tidak terjadi pengurasan sapi lokal yang bisa menyebabkan ketergantungan impor makin besar.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring mengatakan, swasembada daging akan menguras sekitar 700.000 sapi lokal yang diambil dari Pulau Jawa. Padahal, perkembangan rata-rata populasi sapi tersebut hanya 3,85 persen atau 264.000 ekor per tahun.

"Jumlah rata-rata populasi sapi tersebut tidak akan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging sapi, terutama di wilayah Jabodetabek. Terlebih karena sapi membutuhkan waktu lama untuk bisa disembelih," kata Thomas dalam diskusi bertema "Carut Marut Impor dan Masa Depan Swasembada Daging Sapi" di Jakarta, Rabu (6/3).

Menurut dia, pemerintah harus bisa memberikan data yang valid mengenai total produksi dan konsumsi per kapita per tahun. Kenaikan konsumsi per kapita per satu kilogram diperkirakan membutuhkan penambahan produksi sapi hingga 1,5 juta ekor. Bahkan dia menilai, swasembada daging yang terlalu dipaksakan dan tidak didukung oleh data yang valid akan mengakibatkan harga terus melambung. "Kalau dipaksakan, harga melambung dan konsumsi bisa turun," ujarnya.

Untuk itu, Thomas mengatakan, pemerintah perlu mengambil kebijakan yang tidak akan menimbulkan gejolak yang berpengaruh pada bidang-bidang lain. Dia juga menilai, program swasembada daging yang dicanangkan pada 2014 perlu dipikirkan kembali. Pengurangan kuota impor daging sapi hendaknya dilakukan secara bertahap dan tidak drastis. "Agar tidak menimbulkan gejolak harga seperti yang dialami pada saat ini," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi IV DPR RI Romahurmuziy mengatakan, perlunya menghitung konsumsi daging sapi per kapita dan potensial stok secara lebih akurat dan terperinci. Hal itu, menurut dia, akan memberikan solusi atas gejolak harga daging yang terjadi selama ini akibat kurangnya pasokan.

"Tren harga daging terus naik, ini menunjukkan bahwa kondisi pasar under supply. Solusinya, penuhi pasokan hingga harga turun, karena itu butuh hitungan akurat sampai berapa kita butuh untuk stabilkan harga," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, hingga lima tahun ke depan, Indonesia masih akan mengimpor daging sapi karena produksi sapi lokal masih sulit memenuhi kebutuhan daging nasional.

Menurut dia, dalam hitungan kasar, Indonesia kelebihan daging sapi karena total produksi dan kebutuhannya sesuai. Kebutuhan daging sapi per orang mencapai sekitar 1,9 kilogram per tahun, sementara produksi daging mencapai 14 juta ekor. Namun pada kenyataannya, produksi sapi lokal belum mencukupi kebutuhan sehingga harus ada impor.

Dia menambahkan, data tersebut kemungkinan bisa salah atau benar. Akan tetapi, menurutnya, ada sejumlah pihak yang memanfaatkan kesempatan dalam impor daging sapi.

"Jadi kalau di Singapura, harga daging sekitar Rp 45.000 per kg, sementara di Jakarta harganya Rp 90.000 per kg. Singapura kan impor juga, itu artinya importir (kita) labanya besar sekali, bisa dilihat dari selisih harga yang besar," katanya.

Diposting 07-03-2013.

Dia dalam berita ini...

M. Romahurmuziy

Anggota DPR-RI 2009-2014 Jawa Tengah VII
Partai: PPP