Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menyoroti ketergantungan industri kopi nasional terhadap bahan baku impor di tengah agenda hilirisasi yang terus didorong pemerintah. Menurutnya, hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan produk akhir, tetapi harus mampu membangun rantai pasok domestik yang kuat.
Hal itu disampaikan Evita saat mengunjungi pabrik PT Santos Jaya Abadi, produsen kopi Kapal Api, Semarang, Jumat (4/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia melihat langsung proses produksi dan berdiskusi dengan manajemen perusahaan terkait tantangan pengembangan industri kopi nasional.
Evita menilai Kapal Api merupakan salah satu produk nasional yang memiliki potensi besar menjadi contoh keberhasilan hilirisasi. Dengan penguasaan sekitar 60 persen pasar kopi domestik dan ekspansi ke pasar global, industri tersebut dinilai memiliki fondasi kuat untuk terus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Namun, ia menegaskan kekuatan industri pengolahan harus diimbangi dengan kemandirian bahan baku. Salah satu persoalan yang disampaikan manajemen PT Santos Jaya Abadi adalah kebutuhan gula rafinasi. Perusahaan disebut telah beberapa kali mengupayakan izin untuk membangun pabrik gula rafinasi sendiri.
“Kalau kita bicara hilirisasi total, kita menginginkan kita ini ekspor, sudah tidak impor lagi,” tegas legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah III tersebut.
Evita meminta pemerintah memberikan dukungan kebijakan bagi perusahaan yang serius membangun industri bahan baku di dalam negeri. Menurutnya, kemudahan kebijakan diperlukan sepanjang diarahkan untuk memperkuat industri nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.
“Jangan sampai kita bicara hilirisasi, tetapi bahan bakunya masih impor. Ini yang harus kita benahi,” ujarnya.
Ketergantungan impor, lanjut Evita, tidak hanya terjadi pada bahan baku produksi, tetapi juga sejumlah material pendukung, termasuk bahan kemasan berbasis plastik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan industri hilir harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Pada saat yang sama, Indonesia masih mengekspor kopi dalam bentuk green bean atau biji kopi mentah. Evita menilai kondisi itu menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab melalui penguatan industri pengolahan di dalam negeri. “Yang kita inginkan ke depan, kita ekspor dan bisa mempergunakan bahan baku yang memang diproduksi di dalam negeri,” katanya.
Evita juga mengapresiasi fasilitas produksi PT Santos Jaya Abadi yang dinilainya telah menerapkan standar kebersihan, higiene, teknologi, dan proses pengolahan yang baik. Menurutnya, kapasitas tersebut membuktikan industri makanan dan minuman nasional mampu menghasilkan produk berkualitas dan berstandar tinggi. “Pabriknya bersih sekali, higienis. Menurut saya tidak ada keraguan lagi untuk meminum kopi Kapal Api,” ujar Evita.
Ekspansi PT Santos Jaya Abadi melalui pembangunan pabrik di Jeddah, Arab Saudi, turut mendapat apresiasi. Evita menilai langkah tersebut membuka peluang lebih besar bagi produk Indonesia untuk menembus pasar global.
Menurut politisi dari Fraksi PDI Perjuangan ini, perubahan peta perdagangan internasional harus dimanfaatkan untuk memperluas pasar produk olahan Indonesia. Ia menekankan ekspor tidak boleh kembali bertumpu pada komoditas mentah.
“Sudah diolah, jadi tidak barang mentah yang diekspor, tapi sudah dilakukan pengolahan di dalam negeri. Itu harapan kita,” tegasnya.
Berbagai persoalan yang disampaikan manajemen PT Santos Jaya Abadi akan dibawa Evita ke pembahasan bersama Kementerian Perindustrian. Komisi VII DPR RI akan mendorong kebijakan industri yang memberikan ruang lebih besar bagi penguatan rantai pasok domestik.
Bagi Evita, hilirisasi kopi bukan sekadar mengubah biji kopi menjadi produk kemasan. Hilirisasi harus menghasilkan nilai tambah, memperkuat bahan baku dalam negeri, menekan impor, dan meningkatkan ekspor produk jadi. “Jadi ukurannya bukan hanya produknya sudah jadi, tetapi seberapa besar nilai tambah dan bahan baku itu bisa kita hasilkan sendiri di dalam negeri,” pungkas Evita.