Anggota Komisi VII DPR RI Tifatul Sembiring menyoroti masih tingginya impor kopi Indonesia di tengah posisi Indonesia sebagai salah satu negara produsen kopi dunia. Ia mendorong pemerintah memperkuat produksi dalam negeri agar industri kopi mampu meningkatkan ekspor dan menghasilkan devisa lebih besar.
Hal itu disampaikan Tifatul saat mengunjungi pabrik kopi Kapal Api di Semarang, Jumat (4/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia mendapat paparan mengenai kapasitas produksi dan distribusi perusahaan. Kapal Api disebut menguasai sekitar 64 persen pasar kopi nasional dengan kapasitas produksi mencapai 500 ton per hari.
Menurut Politisi Fraksi PKS ini, skala industri tersebut menunjukkan besarnya dampak ekonomi sektor kopi. Rantai industri kopi tidak hanya mencakup proses produksi, tetapi juga melibatkan petani, pekerja, distribusi, perdagangan, hingga berbagai usaha pendukung.
“Efek ekonominya besar. Karena yang bergerak bukan hanya pabrik, tetapi juga petani, pekerja, distribusi, perdagangan, dan usaha-usaha pendukung lainnya,” ujar Tifatul.
Ia mendorong industri besar meningkatkan penyerapan bahan baku dari masyarakat. Kebutuhan gula aren dan brown sugar, misalnya, dinilai dapat menjadi peluang bagi petani dan pelaku usaha lokal. Sementara untuk kebutuhan gula rafinasi, Tifatul menekankan pentingnya pemenuhan sesuai ketentuan dan kriteria yang berlaku.
Selain bahan baku, Tifatul menyoroti ketergantungan industri terhadap teknologi impor. Menurutnya, mesin produksi berskala besar masih banyak didatangkan dari luar negeri. Karena itu, pemerintah perlu mendorong pengembangan teknologi dan mesin pengolahan kopi berkapasitas kecil yang dapat dimanfaatkan industri rumahan dan pelaku usaha mikro.
“Bagaimana kita bisa membuat mesin-mesin skala kecil, skala masyarakat, industri rumahan,” kata Tifatul.
Menurutnya, penguatan teknologi tepat guna penting agar industri kopi skala kecil di berbagai daerah dapat meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produknya. Tantangan mereka saat ini tidak hanya pada produksi, tetapi juga kemasan dan akses pasar.
Tifatul mencontohkan kopi Sipirok di Sumatera Utara yang memiliki potensi pasar meski masih diproduksi dengan fasilitas sederhana. Ia meminta pemerintah memberikan pendampingan agar produk kopi daerah mampu naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas.
“Jangan hanya berkutat di sekitar Medan dan sekitarnya. Mereka perlu dibimbing packaging-nya, pasarnya, market-nya,” ujarnya.
Legislator dari daerah pemilihan Sumatera Utara I itu menilai Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang kuat melalui keragaman kopi dari berbagai daerah, mulai dari Sumatera, Jawa, Toraja, hingga Bali. Perbedaan karakter rasa tersebut, menurutnya, dapat menjadi modal untuk memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar internasional.
Di sisi lain, pertumbuhan kedai kopi, komunitas penikmat kopi, dan pelatihan barista menunjukkan pasar kopi domestik terus berkembang. Tifatul menilai tren tersebut harus diikuti dengan peningkatan kapasitas industri nasional agar manfaat ekonominya semakin besar dirasakan masyarakat.
“Bagaimana Indonesia sebagai negara tropis ini betul-betul dikenal dunia bahwa kita adalah produsen kopi yang cukup besar dan bisa diandalkan di seluruh negara,” tegasnya.
Tifatul menekankan peningkatan ekspor harus berjalan beriringan dengan penguatan industri dalam negeri. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan industri besar maupun pelaku usaha kecil memiliki akses terhadap bahan baku, teknologi, pembinaan, kemasan, dan pasar.
“Jadi bukan hanya konsumsi yang kita tingkatkan, tetapi bagaimana ekspor kita perbesar, industri kecil kita naik kelas, dan ketergantungan terhadap impor kita kurangi,” pungkas Tifatul.