Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat aksi nyata menjaga kelestarian lingkungan di wilayah pesisir. Anggota Komisi XII DPR RI Ateng Sutisna mengajak masyarakat bergerak bersama menghadapi tantangan perubahan iklim melalui aksi bersih sungai dan penanaman mangrove di Desa Anggasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang, Jawa Barat pada Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan bertema “Now for Climate – Saatnya Bekerja untuk Iklim” tersebut digelar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan mengurangi pencemaran sungai. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi upaya memulihkan kawasan mangrove sebagai benteng alami dalam menghadapi abrasi, banjir rob, serta dampak perubahan iklim.
Dalam kegiatan yang melibatkan pemerintah daerah, pegiat lingkungan, nelayan, pemuda, hingga masyarakat sekitar itu, Ateng turut melakukan aksi bersih sungai dan penanaman mangrove bersama peserta sebagai simbol komitmen bersama menjaga lingkungan pesisir utara Subang.
Sebagai anggota Komisi XII DPR RI yang membidangi lingkungan hidup, energi, dan investasi, Ateng menilai wilayah pesisir utara Subang memiliki peran ekologis penting, namun juga menghadapi tekanan serius akibat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Menurutnya, kawasan pesisir sebagai daerah hilir menanggung dampak dari persoalan sampah dan pencemaran yang terjadi di sepanjang aliran sungai.
“Subang memiliki kekayaan alam yang lengkap, dari pegunungan, dataran, hingga pesisir laut. Tetapi kekayaan ini harus dijaga dengan kerja nyata. Aksi bersih sungai dan penanaman mangrove bukan hanya kegiatan seremonial, tetapi bagian dari ikhtiar bersama melindungi masyarakat pesisir dari abrasi, banjir rob, pencemaran, dan krisis iklim,” ujar Ateng dalam keterangan tertulis yang diterima Parmenetaria pada Selasa (9/6/2026).
Legislator Daerah Pemilihan Jawa Barat IX itu menjelaskan bahwa Kabupaten Subang memiliki tiga daerah aliran sungai (DAS) utama, yakni DAS Cilamaya, DAS Ciasem, dan DAS Cipunagara yang menjadi penopang kehidupan masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem wilayah. Namun, berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di sepanjang aliran sungai pada akhirnya bermuara ke kawasan pesisir dan berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan serta kehidupan masyarakat.
Ateng menekankan bahwa penanaman mangrove harus menjadi gerakan berkelanjutan, bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Menurutnya, mangrove memiliki fungsi penting sebagai pelindung garis pantai dari abrasi, habitat biota laut, penyerap karbon alami, sekaligus penopang ekonomi masyarakat nelayan.
“Menanam mangrove berarti menanam masa depan. Kita sedang melindungi pantai, menjaga sumber penghidupan nelayan, memperbaiki kualitas lingkungan, dan sekaligus berkontribusi dalam pengendalian perubahan iklim,” tambah politisi Fraksi PKS itu.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, organisasi lingkungan, komunitas pemuda, dunia pendidikan, pelaku usaha, hingga masyarakat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, tantangan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
“Pembangunan Subang harus maju, tetapi tidak boleh mengorbankan lingkungan. Kita ingin Subang tumbuh sebagai daerah yang produktif, bersih, lestari, dan tangguh menghadapi perubahan iklim,” pungkasnya.