Berita Anggota Parlemen

Tarik Minat Generasi Muda Ke Sawah, Senator: Ayo, Gencarkan Program Petani Milenial

Senayan mendesak pemerintah serius memperhatikan profesi petani di Tanah Air. Pasalnya, jumlah angkatan muda profesi petani turun drastis, bahkan terancam ‘punah’ pada tahun 2063.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sultan B Najamudin mengatakan, porsi petani muda semakin menurun dibanding profesi lainnya. Kemajuan teknologi dan industri lebih menarik kaum milenial.

“Kondisi ini harus diantisipasi semua pihak, menemukan solusi dalam mewujudkan regenerasi petani,” ujar Sultan melalui keterangan tertulisnya, kemarin.

Sebelumnya, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan pada tahun 2063, tak ada lagi profesi petani seiring dengan turunnya pekerja di sektor pertanian. Sebab, para pemuda desa lebih memilih bekerja di kota besar, ketimbang menjadi petani di desanya.

Sultan mengatakan, pada tahun 1976 proporsi pekerja Indonesia di sektor pertanian mencapai 65,8 persen. Namun, angka tersebut terjun bebas pada tahun 2019, menjadi 28 persen.

Data itu membuktikan, profesi petani kalah jauh dibandingkan profesi lainnya.

“Karenanya, pemerintah perlu membuat strategis khusus kepada generasi muda (milenial) agar berminat menjadi petani di masa mendatang,” tegas Senator asal Bengkulu itu.

Sultan menambahkan, langkah awal untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan melawan stereotip terhadap kesejahteraan kehidupan para petani. Bahwa petani itu orang susah dan miskin. Makanya, generasi muda lebih memilih sektor pekerjaan lain dibanding hidup dalam sektor pertanian.

“Sebagai negara agraris, kita semua harus mengkampanyekan, menjadi petani itu adalah peluang kekinian bagi anak muda. Jadi, mindset-nya harus diubah agar anak muda terbuka pikirannya terhadap isu-isu pertanian dan perkembangan inovasi pertanian,” urai dia.

Mantan Wakil Gubernur Bengkulu itu juga mendorong peningkatan peran keluarga dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Keluarga kudu menanamkan sikap respek, sosialisasi dan pewarisan usaha pertanian.

Selain itu, peran penyuluh pertanian sebagai fasilitator, komunikator, motivator, konsultan dan mengembangkan kelembagaan petani muda.

Menurutnya, modernisasi pertanian dapat melalui penerapan teknologi mekanisasi pertanian dan smart farming atau digital farming.

Korporasi petani dapat dikembangkan sebagai penarik minat generasi muda, karena membuka peluang tersedianya lahan yang layak secara ekonomi, berbasis spesialisasi keahlian, penggunaan alat-mesin pertanian dan meningkatkan posisi tawar petani.

Anggota Komisi IV DPR Endang Setyawati Thohari menambahkan, regenerasi profesi petani penting guna mendukung program peningkatan sektor pertanian di Indonesia. Sektor pertanian terbuka bagi siapa pun, terutama bagi anak muda masa kini.

“Artinya, anak muda atau kaum milenial ini harus mau dan jangan malu menjadi petani, karena bertani merupakan pekerjaan yang mulia dan memiliki potensi bagus ke depan, sehingga saya mengajak anak muda menjadi petani milenial,” ajak Endang.

Program petani milenial mulai gencar dilakukan pemerintah. Seperti di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memberi sejumlah bantuan. Mulai dari peminjaman lahan, per mudah akses bank, sampai mencarikan offtaker atau pembeli.

Program inovatif Jawa Barat itu bertujuan untuk mengurangi pengangguran. Khususnya pasca pandemi Covid-19 serta dapat memperkuat ketahanan pangan di Jawa Barat, karena pangan menjadi sektor yang tangguh meski dihantam pandemi.

Diposting 22-04-2021.

Maaf. Hanya User Konstituen yang bisa memberikan komentar.

Mereka dalam berita ini...

Sultan Bactiar

Anggota DPD-RI 2019-2024
Bengkulu

Endang Setyawati Thohari Dess

Anggota DPR-RI 2019-2024
Jawa Barat 3